Prestasiku Untuk Orang Tuaku
Prestasiku Untuk Orang Tuaku
Cipt: Dimas Pangestu.
Disebuah desa yang bernama Desa Suka Sari. Desa yang mayoritas warganya bekerja sebagai pemulung. Disana ada seorang anak remaja yang masih duduk di bangku kelas 8 Sekolah Menengah Pertama yang bernama Deni Sunjaya. Sepulang sekolah, ia selalu membantu ibunya. Bukan untuk mencuci piring, melipat baju, maupun membersihkan rumah, melainkan berkeliling kota membantu ibunya mencari sampah yang masih layak dijual ke pengepul sampah. Mereka tidak menyerah mengais rejeki, walaupun cahaya matahari yang terik membakar kulit mereka dan tubuh mereka mengeluarkan keringat yang deras becucuran. Deni bersama ibunya tidak kenal lelah dalam bekerja, walaupun uang mereka tidak mencukupi kebutuhan mereka untuk sehari-hari, tetapi Sebenarnya ibu Deni tak tega melihat anaknya bekerja membantunya bekerja, tetapi Deni tetap memaksa bekerja membantu ibunya, karena Deni juga tak tega melihat ibunya bekerja sendirian.
Deni tinggal berdua dirumah yang terbuat dari kardus bekas bersama ibunya. Rumah kardus itu sangat kecil, dan seakan-akan roboh disaat ketika hujan turun dengan deras, apalagi air akan naik dan menjadi banjir. Mereka pun terpaksa mengungsi ke tempat lain sambil membawa benda dan harta yang sangat penting, seperti ijazah, akta kelahiran, dll. Ketika kardus-kardus di rumahnya sudah rusak di hantam banjir, mereka harus mencari kardus bekas yang masih bisa dijadikan bahan membuat rumah mereka. Karena, jika mereka tidak memperbaiki rumahnya, mereka akan hidup gelandangan dijalan.
Deni sekarang adalah anak yatim, yaitu anak yang tidak lagi memiliki salah satu orang tua, yaitu seorang Ayah. Ayahnya telah meninggal empat tahun yang lalu ketika Deni masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Peristiwa itu, ketika Deni dan Ayahnya hendak berdagang sayuran di pasar mengendarai sebuah sepeda motor. Mereka membawa sayur-sayuran yang akan mereka jual di pasar. Ditengah-tengah perjalanan ke pasar, tiba-tiba ada sebuah kendaraan yang sangat besar, yaitu sebuah mobil truk. Mobil truk itu melaju dengan kecepatan yang sangat kencang. Ketika itu motor ayahnya hendak berbelok ke kanan menuju jalan ke pasar, dan tiba tiba mobil truk itu menabrak motor ayahnya. “Daarrr!!!”. Tabrakan tak terhindarkan hingga ayahnya terpental jauh sejauh sepuluh meter dan Deni juga ikut terpental. Melihat peristiwa kecelakaan itu, para warga langsung menolong Deni dan ayahnya dan langsung menelpon ambulan. Sementara itu, sopir truk beserta truknya langsung dilaporkan dan diamankan oleh polisi. Pada saat itu, Deni dan ayahnya di bawa ke rumah sakit terdekat oleh ambulan. Mereka langsung di bawa ke ruang UGD. Disana mereka diperiksa oleh dokter. Menurut pemeriksaan dokter Deni masih hidup, tetapi sayangnya nyawa ayah Deni tidak dapat tertolong lagi, karena, banyak sekali luka yang ada di sekujur tubuh ayahnya. Ayah Deni sudah meninggal ditempat kejadian. Kata dokter kepada suster, “Ini sudah takdir, kita tidak bisa lagi menolongnya”. Tiba-tiba terdengar suara Deni di sebelah tirai, ternyata Deni sudah sadar. Ia berteriak memanggil ayahnya.
“Ayah, ayah!!! Ayah dimana?”. Teriak Deni memanggil ayahnya. Mendengar suara itu, suster langsung mendatangi Deni. “Sabar nak, sabar!. Kenapa?”. Kata suster kepada Deni. “Ayah dimana suster? Ayah dimana?”. Kata Deni berkata kepada suster.
“Maaf nak, nyawa ayahmu tak dapat tertolong lagi. Ia sudah meninggal dunia.”. Jawab suster dengan kata yang agak ragu-ragu.
“Apa??? Tidak mungkin ayah sudah meninggal. Ayaaahhh!!!” Teriak Deni memanggil ayahnya sambil mengeluarkan air mata.
Dulu Deni dan kedua orang tuanya hidup sederhana. Pada saat kejadian ayahnya meninggal. Deni dan ibunya langsung jatuh miskin di karenakan hutang-hutang ayahnya yang sangat banyak. Sehingga rumah dan seluruh isi rumah mereka di ambil oleh orang yang menagih hutang ayahnya yang sudah lama tak dikunjung dibayarkan. Deni dan ibunya pun hidup gelandangan dijalanan dan ibunya memutuskan untuk tinggal di sebuah desa yang miskin dan bekerja sebagai pemulung. Mereka membangun rumah yang terbuat dari kardus bekas. Mereka bersyukur bisa mempunyai tempat tinggal, karena mereka tidak tahu lagi harus tinggal dimana. Pada saat itu, Deni masih tetap bersekolah walaupun ia tidak mampu.
Setelah beberapa tahun lamanya, Deni lulus SD dengan hasil tertinggi dan memuaskan. Sudah hampir empat tahun ia ditinggal ayahnya. Hidup mereka seperti hari-hari biasanya. Pulang sekolah Deni selalu membantu ibunya. Deni sangat kasihan ibunya yang selalu bekerja dari pagi sampai siang. Deni membantu ibunya ketika sepulang sekolah. Dia tidak pernah meminta uang jajan kepada ibunya, karena ia tahu keadaan ibunya yang bekerja berpenghasilan sedikit dan untuk makan saja pun sulit, apalagi untuk uang jajannya setiap hari.
Suatu hari, Deni berpamitan kepada ibunya untuk pergi sekolah. ”Assalamualaikum, Bu. Deni pergi sekolah dulu yah, Bu.” Salam Deni kepada ibunya. ”Waalaikumsalam, nak. Iya, hati-hati yah dijalan!”. Jawab ibunya kepada Deni.
Deni pergi sekolah dengan berjalan kaki. Jarak rumah ke sekolahnya tidak terlalu jauh, hanya 100 meter dari rumahnya. Sesampainya di sekolah, Deni langsung bersalaman kepada guru-guru yang telah menunggu di depan gerbang sekolah. Dia langsung masuk ke kelas dan bersalaman dengan teman dekatnya bernama Toni dan Gima. Mereka selalu sekelas dari kelas 7 sampai kelas 8. Mereka bekerja selalu berkelompok, karena banyak sekali orang yang tidak ingin berteman dengan Deni, karena Deni anak pemulung yang miskin. Deni tak peduli dengan omongan orang lain, karena ia yakin dia lebih baik dari mereka. Deni adalah anak terpintar dikelas itu, tetapi teman-teman mereka iri.
Di suatu hari, di papan pengumuman sekolah, Doni melihat ada brosur lomba membuat cerpen berhadiah beasiswa uang senilai Rp50.000.000,00. Melihat itu, Deni seakan tak percaya dengan nilai hadiah yang sangat besar itu. Ia berkeinginan mengikuti lomba itu, tetapi ia tidak mempunyai laptop. Toni merasa ingin membantu temannya, yaitu Deni. Toni meminjamkan laptopnya kepada Deni untuk membuat cerpen itu.
Di tengah malam yang sunyi, setelah Deni solat tahajjud, Deni memohon dengan berdoa kepada Allah sambil menitihkan air mata dan berdoa dengat sangat sungguh-sungguh ia berdoa.
“ Yaa Allah, ampunilah dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, dan dosa-dosa orang yang aku cintai. Berilah Rizki kepada mereka. Bahagiakanlah orang tuaku dengan usaha dan prestasiku. Sukseskan lah aku, agar aku menjadi orang yang berguna di masa depan, Amiiin.”
Setiap harinya, setelah pulang sekolah, Deni selalu berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi mengerjakan cerpen di rumah Toni. Deni izin untuk tidak membantu ibunya beberapa hari. Ibu Deni senang, karena ia tidak ingin merepotkan anaknya.
Sudah hampir setengah bulan, Deni telah mengerjakan cerpen itu sebanyak 20 Lembar. Menurut Toni, cerpen Deni sangat indah dan bagus, Toni bangga mempunyai teman seperti Deni, walaupun ia anak pemulung.
Setelah pulang dari rumah temannya, Deni memanggil ibunya, tetapi ibunya tetap tidak ada. Tiba-tiba tetangga Deni memanggil Deni.
“Den, Deni! Ibumu tadi dibawa ke rumah sakit, karena ia sakit kanker, katanya biaya operasinya 30 juta.”.
Mendengar itu Deni langsung bergegas ke rumah sakit. Ia langsung ke kamar rumah sakit yang di tunjuk oleh tetangganya. Ia langsung memeluk erat ibunya. Dan dia harus mencari biaya operasi ibunya yang sangat mahal.
Deni berusaha menyelesaikan cerpennya itu yang hadiahnya untuk biaya operasi ibunya yang sedang sakit kanker. Sudah satu bulan ia telah menyelesaikan cerpen itu. Kata Toni, ”Biarkan sajah saya membayar semua modal cerpen kamu.”. Mendengar itu, Deni langsung mengucapkan terima kasih kepada Toni.
Toni ingin sekali melihat temannya bahagia, ia rela uang tabungannya habis untuk membahagiakan temannya. Toni langsung mengirim cerpen ke alamat redaksi lewat kantor pos.
Sambil menjaga ibunya di rumah sakit, Deni menayangkan TV untuk melihat pengumuman pemenang Lomba. Dan tiba-tiba berita pengumuman itu mengumumkan pemenangnya itu adalah Deni Sunjaya. Deni seakan tak percaya dengan prestasinya itu. Ia langsung di undang ke Stasiun TV Swasta. Katanya,” Uang itu akan ku pergunakan untuk operasi kanker ibuku”. Ibu Deni merasa bangga dengan prestasi anaknya yang jenius.
Akhirnya ibu Deni telah sembuh total setelah beberapa hari ia di operasi. Deni dan Ibunya juga mendapatkan rumah gratis dari pemerintah. Dan mereka sekarang hidup bahagia dan sederhana.
Casino-Zeno Casino & Hotel - Mapyro
BalasHapusCasino-Zeno. This 울산광역 출장샵 casino is located on the shores of the Atlantic City Boardwalk. 남원 출장마사지 A gaming 전라북도 출장안마 center near 태백 출장마사지 the Boardwalk. This casino is located on 목포 출장마사지 the Rating: 8.5/10 · 1,769 reviews